Monday, September 01, 2008


Socrates dalam Dunia Pendidikan

Riwayat hidup Socrates

Socrates (470-399 SM) adalah Filsuf dari Athena, Yunani dan menjadi salah satu figur tradisi filosofis Barat yang paling penting. Socrates merupakan generasi pertama dari tiga ahli filsafat besar dari Yunani, yaitu Socrates, Plato, dan Aristoteles. Bapanya, Sophroniskur adalah seorang pemahat dan Ibunya, Phainarete, adalah seorang bidan. Pada saat usia Socrates sangat muda, Ia masuk tentara Athena sebagai hoplites (prajurit Yunani yang termasuk pasukan yang dapat dibandingkan dengan infanteri (pasukan jalan) dan biasanya orang ini berasal dari golongan kaya).
Namun kehidupan Socrates menjadi miskin karena Ia meninggalkan hoplites untuk mengutamakan keaktifannya sebagai filsuf. Socrates memiliki keberanian yang sangat menonjol semasa hidupnya. Hal ini terlihat ketika Ia menyelamatkan nyawa sahabatnya, Alkiblades di dalam medan pertempuran. Keberanian dan kemauan keras yang dimilikinya mampu merubah cara pandang masyarakat Athena pada zaman itu, terutama anak-anak muda.

A. Metode Pengajaran Socrates

Keaktifan Socrates sebagai Filsuf menunjukkan karakter dan kepandaiannya pada kalangan aristrokat muda Athena. Anak-anak muda terpacu untuk belajar dengannya dan membentuk kelompok belajar. Socarates sendiri tidak pernah diketahui menuliskan buah pikirannya. Kebanyakan buah pikiran Socrates berasal dari catatan Plato, Xenophone (430-357 SM) dan siswa-siswa lainnya. Namun metode pembelajaran Socrates bukanlah dengan cara menjelaskan tetapi dengan cara mengajukan pertanyaan, menunjukkan kesalahan logika dari jawaban, serta dengan menanyakan lebih jauh lagi, siswanya terlatih untuk memperjelas ide-ide mereka sendiri dan dapat mendefinisikan konsep-konsep yang mereka maksud secara mendetail.
Metode pengajaran yang dipergunakan Socrates seperti yang dijelaskan di atas maksudnya “bercakap-cakap”. Tujuannya untuk menguji nilai-nilai pikiran yang sudah dilahirkan oleh setiap orang melalui pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkannya.

B. Pengaruh Metode Pengajaran Socrates dalam Teori dan Praktek Pendidikan

Sejak 2500 tahun yang lalu, Socrates telah menyatakan tujuan yang paling mendasar dari pendidikan adalah untuk membuat seseorang menjadi “good and smart. Untuk mencapai hal itu, metode pengajaran Socrates memiliki pengaruh yang signifikan dengan pembentukan:
1). Teori konstruktivisme yaitu: proses pembelajaran yang menerangkan bagaimana pengetahuan disusun dalam pelajar (siswa harus aktif dalam proses belajar mengajar). Model pengajaran konstruktivisme yaitu:
a). Model pengajaran interaktif;
b). Pengajaran model yang berpusatkan pada masalah.
2). Teori belajar kognitivisme yang berupa pemahaman dan perubahan tingkah laku yang dapat diamati.
Kedua teori belajar ini mengembangkan lebih jauh praktek pendidikan dialogis yang dicontohkan oleh Socrates. Pembelajaran merupakan konsep inti bersama dengan pengalaman bersama, dialog, dan renungan. Contoh dalam praktek pendidikan:
1). Siswa belajar memlui interaksi dengan sesamanya;
2). Orang tua, teman, guru dapat menjadi mediator dalam pembelajaran;
3).Guru memberi dorongan dan berpartisipasi dalam kegiatan belajar;
4). Mendukung siswa untuk mengembangkan strategi penguasaan dalam pemikiran.

C. Metode Pengajaran berdasarkan Pandangan Kristen

Metode pengajaran yang berdasarkan pandangan Kristen yaitu Theosentris (berpusat pada Allah) dan kebenaran hukum-hukumnya (Alkitab). Hasil akhir bukan tujuan dari pembelajaran tetapi siswa diarahkan kepada proses pengenalan akan firman Tuhan. Menurut Amsal 1:7, ”Takut akan Tuhan adalah permulaan pengetahuan tetapi orang bodoh menghina hikmat dan didikan”. Pengenalan akan Tuhan akan membentuk karakter siswa untuk mendalami ilmu pengetahuan. Peranan guru sebagai teman sekerja Allah akan dibantu oleh Roh Kudus untuk menuntun siswa-siswa memahami tujuan hidupnya, mengaplikasikan ilmu, dan memuliakan Tuhan melalui kehidupannya. Ilmu pengetahuan tanpa pengenalan akan Allah akan mendatangkan keangkuhan dan kesia-siaan.
Metode pengajaran Socrates sangat berpengaruh dalam dunia pendidikan. Pengajarannya mengarahkan siswa untuk aktif dalam proses belajar mengajar di kelas. Metode ini akan sangat berguna bagi para pendidik untuk menyadari keberadaan siswa yang telah dikuasai oleh dosa sehingga metode yang mereka gunakan didasarkan atas kasih Allah dan mengajar dengan kehendak Allah.

(Sumber: www.wikipedia.org/socrates, www. http://www.idp-europe.org/indonesia/buku-inklusi/kurikulum.php, Van Brummelen)